Perjumpaan perempuan pendiam dengan laki-laki yang tak peka adalah bencana. Adalah erupsi gunung berapi. Adalah banjir bandang. Adalah angin puting beliung. Adalah tsunami. Adalah aku dan kamu.
Dia yang tak berbakat menerjemahkan keterdiaman. Diayang terlalu lugu merasa bahwa semua baik-baik saja. Dia yang punya keterampilan kurang memadai dalam mengerti apa yang ada di dalam hati.
Dan aku yang batu. Atau patung tanpa ekspresi. Tak bergerak, tak bersuara, bahkan untuk sekedar berucap ‘aduh’, atau ‘tidak’ aku tak bisa . aku yang hanya bisa diam-diam berairmata. Menangis dalam sunyi untuk menyembunyikan kesedihan. Menyimpannya sendiri di tempat-tempat yang tak mungkin kautemui.
Karena dia laki-laki yang tak peka.
Yang tertawa saat jiwaku merintih. Yang terus melangkah saat aku kelelahan dan tertinggal jauh di belakang.
Ah, laki-laki memang harus lebih merasa. Sebab wanita tak bisa dipaksa bersuara .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar